Polemik M Nazaruddin dan Andi Mallarangeng dalam kasus suap pembangunan Wisma Atlit di Jakabaring, Palembang belum mereda, kini Partai Demokrat justru disibukkan dengan wacana yang dilemparkan oleh kadernya sendiri yakni Ramadhan Pohan. Ironinya internal Partai Demokrat justru tak satu suara dengan keberadaan Mr A yang dimaksud Ramadhan.Wacana Mr A yang dilansir Ramadhan Pohan mulai diragukan keberadaannya. Pasalnya, di internal sendiri tak semuanya mengetahui siapa Mr A. Alih-alih mendukung lemparan isu Ramadhan, kolega bekas wartawan Jawa Pos itu justru menampik keberadaan Mr A yang dituding sebagai biang pengacau internal Partai Demokrat.
Mulai Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Max Sopacua, Ketua Fraksi Partai Demokrat Ja'far Hafsah menegaskan tidak ada Mr A sebagaimana yang dimaksud Ramadhan. Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Poltak Sitompul setali tiga uang.
"Mr A tidak ada. Pak SBY mengajarkan politik santun. Saya mendukung pernyataan Pak Max dan Pak Ja'far," cetusnya kepadaINILAH.COM melalui BlackBerry Messenger (BBM) di Jakarta, Minggu (5/6/2011).
Ketika dikonfirmasi perihal bantahan dari berbagai elit Partai Demokrat, Ramadhan Pohan melalui aku twitternya @ramadhanpohan1 mengaku dirinya tak akan mengomentari balik pernyataan para koleganya yang meragukan pernyataannya. "Fatsun politik saya, haram komentar sesama pengurus dan kader tentang Partai Demokrat dan SBY," tulisnya, Minggu (5/6/2011).
Dia mengaku, belakangan informasi tentang Mr A telah disalapahami oleh sebagaian pihak. Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat ini mengaku dirinya tidak pernah menyebut Mr A sebagai pihak yang menyebar SMS gelap. "SMS gelap biar polisi yang bergerak. Mr A khusus kasus percobaan inflintrasi dan provokasi dengan tujuan supaya berimplikasi rubuhnya reputasi dan citra PD-SBY. Riil," cetusnya.
Ruhut disinggung soal sikap Ramadhan yang enggan memberi tanggapan atas pernyataannya tidak ambil pusing. Dia menegaskan apapun reaksi Ramadhan, yang terpenting baginya, seluruh kader Partai Demokrat jangan melupakan jasa para pendiri Partai Demokrat. "Jangan kita sebagai kader PD justru menambah permasalahan baru," sentil Ruhut.
Isu Mr A kini telah menjadi perbincangan publik. Dalam forum resmi antarpolitisi serta di situs jejaring sosial, perbincangan mengenai Mr A telah menjadi topik hangat. Umumnya, penasaran tentang keberadaan siapa sebenranya Mr A yang dimaksud Ramadhan Pohan.
Tidak hanya itu, belakangan, publik justru mempertanyakan validitas Mr A yang dimaksud Ramadhan Pohan. Ekstremnya, tidak sedikit publik justru menilai wacana Mr A yang dilempar Ramadhan Pohan justru sebagai upaya pengalihan isu yang kini menimpa Partai Demokrat.
Analisa yang beragam ini jelas tidak menguntungkan bagi Partai Demokrat dan SBY yang tidak lama sebelumnya justru meminta agar pihak tertentu tidak membuat fitnah melalui SMS. Sikap demikian, menurut SBY, sebagai cara yang tidak ksatria dan tidak bertanggungjawab.
Suara negatif publik terhadap Mr A yang dimaksud Ramadhan Pohan seharusnya dapat segera diatasi dengan baik. Langkah ini penting untuk menghindari citra negatif terhadap institusi Partai Demokrat.
Bila mekanisme ini sulit dilakukan Ramadhan Pohan secara personal, DPP Partai Demokrat sebagai institusi formal dapat turut serta membantu menjelaskan dan mendudukkan persoalan secara terang benderang ke publik.
Ini penting, setidaknya menghindari perbedaan pandangan di internal Partai Demokrat terkait Mr A. Bagaimanapun hal ini juga sudah muncul ke publik seperti perbedaan pandangan Wakil Ketua Umum PP PD Max Sopacua, Ketua Fraksi PD DPR Ja'far Hafsah, serta Ketua DPP PD Ruhut Poltak Sitompul.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar